Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Amfetamin: Fungsi, Efek Samping, dan Ketergantungannya yang Berbahaya

Planetsehat - Amfetamin adalah obat psikoaktif yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan berfungsi sebagai stimulan. Dalam penggunaannya sebagai obat, amfetamin dapat meningkatkan kadar dopamin, noradrenalin, dan serotonin di otak yang menyebabkan efek stimulan pada penggunanya. Namun, penggunaan amfetamin tanpa resep dokter atau dengan dosis yang berlebihan dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya. Amfetamin juga sering digunakan sebagai zat yang menimbulkan ketergantungan dan penggunaannya tanpa pengawasan dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ tubuh dan mempengaruhi fungsi sosial dan kognitif. Oleh karena itu, pemerintah di banyak negara telah mengklasifikasikan amfetamin sebagai obat terlarang dan mengatur penggunaannya dengan ketat.

Amfetamin: Fungsi, Efek Samping, dan Ketergantungannya yang Berbahaya
Amfetamin (Foto : Gettyimages)

Amfetamin atau amphetamine merupakan obat stimulan yang digunakan untuk mengatasi attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan narkolepsi. Amfetamin bekerja dengan meningkatkan aktivitas dopamin dan noradrenalin di otak, yang dapat meredakan gejala narkolepsi serta membantu penderita ADHD untuk lebih fokus dalam beraktivitas. Selain itu, obat ini kadang-kadang digunakan untuk mengendalikan nafsu makan dan mengontrol berat badan. Namun, penting untuk diingat bahwa amphetamine harus digunakan sesuai dengan resep dokter dan tidak boleh digunakan sembarangan.

Apa itu Amfetamin?

Amfetamin adalah salah satu jenis obat psikoaktif yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan berfungsi sebagai stimulan. Amfetamin biasanya digunakan untuk mengobati gangguan hiperaktivitas, narcolepsy (keadaan ketika seseorang merasa sangat ngantuk dan mengantuk secara tiba-tiba), dan obesitas.

Amfetamin pertama kali dikembangkan pada tahun 1887 oleh seorang ahli kimia Jerman bernama Laz─âr Edeleanu. Namun, baru pada tahun 1927, amfetamin diperkenalkan sebagai obat yang dapat merangsang sistem saraf pusat. Saat itu, amfetamin digunakan untuk mengobati berbagai gangguan psikologis, termasuk depresi, kecemasan, dan kelelahan kronis.

Dalam penggunaannya sebagai obat, amfetamin bekerja dengan meningkatkan kadar dopamin, noradrenalin, dan serotonin di otak. Hal ini menyebabkan efek stimulan yang menyebabkan seseorang merasa lebih bersemangat, lebih fokus, dan lebih energik. Namun, jika digunakan secara berlebihan atau tanpa resep dokter, amfetamin dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya, seperti peningkatan denyut jantung, tekanan darah tinggi, kejang, kecemasan, dan insomnia.

Selain digunakan sebagai obat, amfetamin juga sering digunakan sebagai zat yang menimbulkan ketergantungan karena memberikan efek euforia dan meningkatkan rasa percaya diri. Ketergantungan pada amfetamin dapat menyebabkan kerusakan otak, jantung, dan ginjal, serta mempengaruhi fungsi sosial dan kognitif. Oleh karena itu, penggunaan amfetamin tanpa resep dokter sangat tidak disarankan.

Pemerintah di banyak negara telah mengklasifikasikan amfetamin sebagai obat terlarang dan mengatur penggunaannya dengan ketat. Selain itu, upaya juga dilakukan untuk memberikan informasi yang lebih luas mengenai risiko penggunaan amfetamin, termasuk cara menghindari penggunaannya dan cara mengatasi masalah ketergantungan pada amfetamin.

Klasifikasi Ameftamin

Amfetamin adalah golongan obat resep yang termasuk dalam kategori stimulan sistem saraf, yang berfungsi untuk meredakan gejala attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan narkolepsi pada dewasa dan anak-anak. Namun, untuk ibu hamil dan menyusui, amfetamin termasuk dalam kategori C karena studi pada binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping terhadap janin, meskipun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Oleh karena itu, obat ini hanya boleh digunakan jika manfaat yang diharapkan melebihi risiko terhadap janin.

Amfetamin dapat terserap ke dalam ASI, sehingga bagi ibu yang sedang menyusui sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini. Amfetamin tersedia dalam bentuk tablet dan suspensi.

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Amfetamin

Amfetamin adalah obat stimulan yang harus digunakan hanya sesuai dengan resep dokter. Sebelum mengambil obat ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk memastikan penggunaan amfetamin yang aman dan efektif.

Pertama-tama, hindari mengonsumsi amfetamin jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap obat ini dan pastikan untuk memberitahu dokter tentang kondisi ini. Selain itu, jangan minum alkohol selama menjalani pengobatan dengan amfetamin.

Amfetamin juga tidak boleh digunakan jika Anda sedang menggunakan obat golongan monoamine oxidase inhibitors (MAOI) atau jika Anda memiliki hipertensi, hipertiroidisme, atau gangguan cemas yang berat. Selain itu, jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung, glaukoma, stroke, depresi, gangguan bipolar, penyakit ginjal, sindrom Tourette, kejang, penyakit arteri perifer, kecanduan alkohol, epilepsi, atau penyalahgunaan NAPZA, sebaiknya berbicara dengan dokter sebelum menggunakan amfetamin.

Setelah mengonsumsi amfetamin, hindari mengemudikan kendaraan atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan karena obat ini dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, dan kantuk. Penting juga untuk membicarakan penggunaan amfetamin pada anak karena penggunaan obat ini dalam jangka panjang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Jangan lupa untuk memberitahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan, serta jika Anda menggunakan obat-obatan lain, suplemen, atau produk herbal.

Jika Anda mengalami reaksi alergi, overdosis, atau efek samping yang serius setelah mengonsumsi amfetamin, segera temui dokter. Perhatikan hal-hal tersebut sebelum mengambil amfetamin untuk memastikan penggunaan obat yang aman dan efektif.

Dosis dan Aturan Pakai Amfetamin: Sesuaikan dengan Kondisi dan Usia Pasien

Amfetamin adalah obat stimulan yang digunakan untuk mengatasi beberapa kondisi, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), narkolepsi, dan penurunan berat badan pada pasien obesitas. Namun, sebelum menggunakan amfetamin, penting untuk mengetahui dosis dan aturan pakai yang tepat, karena setiap kondisi dan usia membutuhkan dosis yang berbeda-beda.

Untuk pengobatan ADHD pada dewasa, dosis awal amfetamin adalah 2,5 atau 5 mg, 1 kali sehari di pagi hari, dengan dosis maksimal tidak lebih dari 20 mg per hari. Sementara itu, pada anak-anak usia 3-5 tahun, dosis awal adalah 2,5 mg, 1 kali sehari, yang dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan.

Untuk kondisi narkolepsi, dosis awal amfetamin pada dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun adalah 10 mg, 1 kali sehari, di pagi hari, dengan dosis maksimal tidak lebih dari 60 mg per hari. Sedangkan pada anak-anak usia 6-11 tahun, dosis awal adalah 5 mg, 1 kali sehari, yang juga dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan.

Sedangkan untuk penurunan berat badan pada pasien obesitas, dosis amfetamin yang direkomendasikan adalah 5-10 mg per hari, diminum 30-60 menit sebelum makan, dengan dosis maksimal 30 mg per hari.

Namun, dosis amfetamin yang diberikan harus selalu disesuaikan dengan kondisi dan usia pasien, serta ditentukan oleh dokter yang merawat. Selalu ikuti aturan pakai yang telah diberikan oleh dokter dan jangan pernah mengubah dosis atau durasi pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Cara Menggunakan Amfetamin dengan Benar

Amfetamin adalah obat stimulan yang efektif digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), narkolepsi, dan penurunan berat badan pada pasien obesitas. Namun, penggunaan amfetamin harus dilakukan dengan benar untuk memastikan kemanjuran dan keselamatan obat.

Pertama-tama, ikuti anjuran dokter dan baca petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan obat sebelum mengonsumsi amfetamin. Jangan menambahkan atau mengurangi dosis, serta jangan menggunakan obat melebihi jangka waktu yang dianjurkan.

Konsumsi amfetamin secara teratur pada waktu yang sama setiap harinya. Amfetamin tablet dapat dikonsumsi sebelum atau setelah makan, atau sesaat setelah bangun tidur pada pagi hari sebagai dosis pertama. Namun, hindari mengonsumsi amfetamin pada malam hari karena dapat menyebabkan insomnia.

Jika Anda mengonsumsi amfetamin dalam bentuk suspensi, kocok terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Gunakan sendok takar khusus yang tersedia di dalam kemasan amfetamin agar dosisnya lebih akurat.

Jika Anda menggunakan amfetamin untuk menurunkan berat badan, konsumsilah minimal 30 menit hingga 1 jam sebelum makan atau saat perut kosong.

Jangan lupa untuk melakukan kontrol rutin sesuai dengan jadwal yang diberikan dokter, sehingga kondisi dan respons terapi dapat terpantau. Jangan mengonsumsi amfetamin lebih dari 10 hari, dan jika lupa mengonsumsi amfetamin, segera konsumsi jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Namun, jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Terakhir, simpan amfetamin di tempat kering, tertutup, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jangan lupa untuk menjauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Menggunakan amfetamin dengan benar sangat penting untuk memastikan kemanjuran dan keselamatan obat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran terkait penggunaan amfetamin.

Interaksi Amfetamin dengan Obat Lain: Ketahui Sebelum Menggunakan

Amfetamin adalah obat stimulan yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), narkolepsi, dan penurunan berat badan pada pasien obesitas. Namun, penggunaan amfetamin bersama dengan obat-obatan tertentu dapat menyebabkan efek interaksi obat yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Beberapa obat yang tidak boleh digunakan bersamaan dengan amfetamin adalah obat golongan monoamine oxidase inhibitors (MAOI), seperti isocaboxazid, selegiline, atau tranylcypromine. Penggunaan amfetamin bersamaan dengan MAOI dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping yang fatal.

Selain itu, penggunaan amfetamin bersamaan dengan obat flu dan batuk atau obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, dapat meningkatkan risiko terjadinya peningkatan tekanan darah dan detak jantung cepat.

Penggunaan amfetamin bersamaan dengan ekstasi atau obat golongan antidepresan, seperti fluoxetine, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom serotonin.

Sebelum menggunakan amfetamin, pastikan untuk memberitahu dokter tentang obat-obatan lain yang sedang atau pernah digunakan, termasuk suplemen atau produk herbal. Jangan mengubah dosis atau durasi pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Penting untuk memahami interaksi amfetamin dengan obat lain untuk memastikan keselamatan penggunaan obat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran terkait penggunaan amfetamin dengan obat-obatan lain.

Ketahui Efek Samping dan Bahaya Menggunakan Amfetamin

Amfetamin adalah obat stimulan yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), narkolepsi, dan penurunan berat badan pada pasien obesitas. Namun, penggunaan amfetamin juga dapat menimbulkan efek samping dan bahaya bagi kesehatan.

Beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah menggunakan amfetamin adalah pusing, mulut kering, mual, diare, kram perut, berat badan turun, sembelit, nafsu makan berkurang, insomnia atau justru mengantuk, sakit kepala, nyeri haid, gugup dan gelisah, perubahan suasana perasaan, rasa sakit dan terbakar saat buang air kecil, dan mimisan.

Jika efek samping tersebut tidak kunjung mereda, segera konsultasikan ke dokter. Selain itu, penggunaan amfetamin juga dapat menimbulkan efek samping yang lebih serius, seperti pusing yang berat, mati rasa, mengalami delusi atau waham dan halusinasi, takikardia atau denyut jantung cepat, penglihatan kabur, sindrom serotonin, stroke, kejang, dan muncul keinginan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Untuk meminimalkan risiko efek samping dan bahaya, pastikan untuk menggunakan amfetamin sesuai dengan dosis dan aturan pakai yang telah ditentukan oleh dokter. Jangan mengonsumsi obat ini tanpa resep dokter atau mengubah dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

Jika Anda mengalami efek samping yang serius setelah menggunakan amfetamin, segera hubungi dokter atau minta pertolongan medis darurat. Jangan mengabaikan efek samping atau bahaya yang mungkin timbul dari penggunaan amfetamin.

Posting Komentar untuk "Amfetamin: Fungsi, Efek Samping, dan Ketergantungannya yang Berbahaya"